Merendang Kue Maksubah, Tradisi Sabut Lebaran yang Hemat Energi dan Kaya Rasa

SUMATERAEKSPRES.ID – Di tengah gempuran teknologi dapur modern yang serba instan, sebuah tradisi unik masih bertahan kuat di pelosok Kabupaten Ogan Ilir. 

Warga Desa Tebedak 2, Kecamatan Payaraman, hingga kini tetap setia melestarikan cara tradisional dalam mengolah hidangan hari raya yang mereka sebut dengan istilah merendang kue basah. 

Jika di kota-kota besar aroma Lebaran mulai didominasi oleh panggangan oven listrik, di desa ini wangi autentik muncul dari proses pemanggangan tradisional yang menggunakan tutup khusus berbahan tanah liat.

Momen merendang kue ini menjadi ritual tahunan yang paling ditunggu saat menyambut Idul Fitri.

BACA JUGA:Kisah Inspiratif Bunda Rayya, Pelaku UMKM yang Panen Orderan dari Bisnis Kue Basah Khas Palembang

BACA JUGA:Order Kue Basah Tetap Laris Manis, Terima Lagi Mulai H+3

Kue-kue mewah khas Sumatera Selatan seperti Lapis Legit dan Maksubah tidak dimasak dengan cara biasa. 

Prosesnya dimulai dengan menyiapkan adonan di dalam cetakan, kemudian di bagian atasnya diletakkan penutup khusus berbahan tanah liat yang sebelumnya telah dipanaskan secara maksimal pakai kayu bakar.

Panas alami dari tanah liat inilah yang perlahan mematangkan adonan hingga menjadi kue yang sempurna.

Sulvi, salah satu warga yang masih menjaga tradisi ini, menjelaskan bahwa metode merendang memberikan hasil yang jauh berbeda dibandingkan oven modern. 

BACA JUGA:8 Aneka Kue Basah Khas Palembang, Cocok Banget Jadi Hidangan Lebaran

BACA JUGA:Orderan Kue Basah Capai Ratusan Buah

“Tutup kue banyak yang dipanaskan. Lalu bergantian diletakkan di atas cetakan kuenya,” kata Sulvi.

Dari segi kualitas, kue yang diproses dengan cara ini memiliki daya tahan yang lebih baik sehingga tidak mudah basi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *